Minggu, 23 November 2025

X APHP 2- Berpikir Komputasional: Jurus Rahasia Anak APHP SMK N 1 Kedawung Sragen!

🤔 Berpikir Komputasional: Jurus Rahasia Anak APHP SMK N 1 Kedawung Sragen!



Hai, Sobat Bloggers dan Calon Insinyur Pangan Masa Depan! Selamat datang kembali di blog HanEsyaCute yang selalu menyajikan bahasan seru dan bermanfaat.

Kali ini, kita akan ngobrolin satu kekuatan super yang wajib banget dimiliki anak SMK, apalagi kalian yang keren-keren dari jurusan Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian (APHP) di SMK Negeri 1 Kedawung Sragen: namanya Berpikir Komputasional!

Jangan langsung takut denger kata "komputasional" ya. Ini bukan cuma buat programmer kok. Ini adalah cara berpikir untuk memecahkan masalah besar, persis seperti komputer memproses data. Hebatnya, ini bisa kita pakai di mana saja, bahkan saat kalian lagi mengolah keripik buah atau bikin dodol!

Berpikir Komputasional itu punya empat jurus utama. Yuk, kita bedah satu per satu dengan contoh nyata di lingkungan APHP SMK N 1 Kedawung Sragen!


1. 🧩 Jurus Pemecahan Masalah (Decomposition)

Analogi Santai: Kalau kamu mau makan martabak manis yang ukurannya jumbo, kan enggak mungkin langsung dilahap sekaligus? Pasti kamu potong-potong jadi bagian yang lebih kecil, biar gampang dimakan. Nah, itu namanya Decomposition!

Apa itu Decomposition?

Decomposition adalah kemampuan untuk memecah masalah atau sistem yang besar dan kompleks menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, mudah dikelola, dan bisa diselesaikan secara terpisah.

Contoh di APHP SMK N 1 Kedawung Sragen
Masalah Besar: "Proses Produksi Keripik Sayur Kemasan"
Dipecah Menjadi Bagian Kecil:
1. Persiapan Bahan Baku (sortasi, pencucian, pengupasan).
2. Proses Pengolahan Inti (pemotongan, perendaman/blanching, penggorengan vakum).
3. Pemberian Bumbu/Penghilangan Minyak (penirisan, seasoning).
4. Pengemasan dan Pelabelan (penyegelan, quality control).

Dengan memecahnya, kalian bisa fokus menyelesaikan satu tahapan sebelum pindah ke tahapan berikutnya, jadi prosesnya terorganisir dan enggak bikin pusing.


2. ✨ Jurus Pengenalan Pola (Pattern Recognition)

Analogi Santai: Kamu punya banyak resep kue. Setelah dilihat-lihat, ternyata semua resep kue kering (seperti nastar, kastengel) selalu punya langkah dasar yang sama: campur mentega + gula, masukkan telur, masukkan tepung, baru dioven. Itu artinya kamu sudah mengenali pola!

Apa itu Pattern Recognition?

Pattern Recognition adalah kemampuan untuk mencari kesamaan, tren, atau keteraturan dalam data atau masalah-masalah kecil yang sudah kamu pecahkan tadi.

Contoh di APHP SMK N 1 Kedawung Sragen
Pola yang Ditemukan:
* Setelah memproduksi Keripik Bayam, Keripik Nangka, dan Keripik Tempe, kalian menyadari: Semua proses penggorengan vakum menghasilkan produk yang renyah dan tidak gosong.
* Semua pengolahan berbasis buah (dodol, manisan, selai) selalu melibatkan langkah pemanasan untuk mengurangi kadar air dan mengawetkan.
Manfaat: Jika kalian mau bikin Keripik Daun Kelor, kalian tahu bahwa pola yang sukses adalah menggunakan teknik penggorengan vakum yang sudah teruji, tidak perlu coba-coba dari awal lagi!

3. 🎯 Jurus Abstraksi (Abstraction)

Analogi Santai: Saat kamu menyetir mobil, kamu hanya perlu tahu cara menginjak gas, rem, dan memutar setir. Kamu enggak perlu tahu secara detail bagaimana mesin bensin bekerja, bagaimana piston bergerak, atau bagaimana sistem kelistrikan terhubung. Kamu hanya fokus pada hal-hal penting yang memengaruhi hasil akhir. Itulah Abstraction!

Apa itu Abstraction?

Abstraction adalah proses menyaring informasi dan hanya fokus pada detail-detail yang paling relevan untuk menyelesaikan masalah, sambil mengabaikan detail yang rumit, tidak perlu, atau tidak berpengaruh.

Contoh di APHP SMK N 1 Kedawung Sragen
Masalah: "Mengapa adonan roti saya tidak mengembang sempurna?"
Fokus/Relevan (Abstraksi):
1. Jumlah Ragi (kurang ragi, adonan tidak mengembang).
2. Suhu Air (air terlalu panas, ragi mati).
3. Waktu Pengadukan (terlalu sebentar, gluten belum terbentuk).
Diabaikan/Tidak Relevan:
1. Warna terigu yang dipakai.
2. Merek mixer yang digunakan.
3. Jam berapa proses proofing dimulai.

Dengan Abstraksi, kalian bisa cepat menemukan akar masalah tanpa tersesat dalam detail yang tidak penting.


4. 📝 Jurus Desain Algoritma (Algorithm Design)

Analogi Santai: Resep masakan adalah Algoritma! Itu adalah langkah-langkah terperinci dan berurutan yang harus kamu ikuti untuk mendapatkan hasil akhir yang konsisten (martabak manis yang enak).

Apa itu Algorithm Design?

Algorithm Design adalah kemampuan untuk membuat rangkaian langkah-langkah yang logis, terperinci, dan jelas (sebuah 'resep' atau 'alur kerja') untuk memecahkan seluruh masalah atau menyelesaikan sebuah tugas.

Contoh di APHP SMK N 1 Kedawung Sragen
Tujuan: Membuat SOP (Standard Operating Procedure) Produksi Puding Buah Nanas.
Desain Algoritma (Urutan Langkah):
Langkah 1: Potong nanas menjadi kecil-kecil (Ukuran: $1 \times 1$ cm).
Langkah 2: Campur air, gula, dan bubuk agar-agar. Aduk rata.
Langkah 3: Panaskan adonan sambil terus diaduk hingga mendidih (Suhu: $\approx 100^\circ C$).
Langkah 4: Masukkan potongan nanas. Aduk sebentar.
Langkah 5: Angkat dan tuang ke cetakan.
Langkah 6: Dinginkan hingga mengeras (Waktu: $\approx 2$ jam).

Desain Algoritma ini memastikan siapa pun yang mengikuti langkah-langkah itu, hasilnya akan sama dan konsisten—inilah kunci utama dalam industri pengolahan pangan!


🚀 Kesimpulan

Jadi, teman-teman APHP SMK N 1 Kedawung Sragen, kalian sudah punya Berpikir Komputasional dalam DNA kalian!

  • Saat kalian membagi tugas pengolahan produk (Decomposition).

  • Saat kalian tahu bahwa mengurangi kadar air selalu meningkatkan daya awet (Pattern Recognition).

  • Saat kalian fokus pada pH dan kadar gula sebagai faktor kunci kualitas produk (Abstraction).

  • Saat kalian membuat SOP produk baru di laboratorium (Algorithm Design).

Semua itu adalah bukti bahwa kalian tidak hanya jago mengolah hasil pertanian, tapi juga pemikir ulung yang siap menghadapi tantangan industri 4.0!

Bagaimana menurutmu? Apakah kamu punya contoh lain penerapan Berpikir Komputasional di kegiatan APHP lainnya? Yuk, tinggalkan komentarmu di bawah!

Jangan lupa juga cek postingan-postingan seru lainnya di blog ini, ya! Sampai jumpa di artikel berikutnya! 👋

Minggu, 19 Oktober 2025

X APHP2-Pseudocode Itu Apa Sih? "Resep Masak" Komputer Biar Anak APHP SMKN 1 Kedawung Gampang Bikin Program! 💻👩‍🍳

 

Pseudocode Itu Apa Sih? "Resep Masak" Komputer Biar Anak APHP SMKN 1 Kedawung Gampang Bikin Program! 💻👩‍🍳


Halo Sahabat Hanesyacute!

Kita sering dengar, "Anak SMK itu harus siap kerja, bahkan siap ngoding (membuat program)!"

Mungkin bagi anak Agriteknologi Pengolahan Hasil Pertanian (APHP) SMKN 1 Kedawung Sragen, ngoding terdengar asing. Kalian kan kerjanya di lab, bikin keripik, atau mengolah dodol. Tapi, tahu enggak, kalian juga butuh skill ini, lho!

Misalnya, kalian mau bikin aplikasi sederhana untuk menghitung biaya produksi keripik atau mengontrol stok bahan baku. Nah, sebelum kalian pakai bahasa pemrograman beneran (seperti Python atau Java), ada satu langkah krusial: Menuliskan Pseudocode!


Pseudocode: "Resep Masak" Sebelum Program Beneran

Analogi Santai:

Bayangkan gini: Kamu mau bikin kue bolu yang perfect. Kamu enggak mungkin langsung nyampur semua bahan tanpa panduan, kan? Kamu pasti butuh resep yang jelas:

  1. Siapkan 500 gram tepung.

  2. Campur telur dan gula, kocok sampai mengembang.

  3. Masukkan tepung sedikit demi sedikit.

  4. Panggang selama 30 menit.

Resep ini adalah panduan langkah demi langkah yang kita tulis dalam bahasa manusia (bahasa Indonesia). Inilah persisnya Pseudocode!

Pseudocode adalah cara menuliskan rancangan program sederhana dalam format yang mirip bahasa komputer, tapi menggunakan bahasa sehari-hari (Inggris atau Indonesia) agar mudah dibaca dan dipahami oleh manusia. Ini adalah jembatan antara ide kita dan bahasa pemrograman.

Kenapa Anak APHP Perlu Pseudocode?

  • Jelas dan Terstruktur: Memastikan ide program kalian sudah terurut dengan logis, persis seperti urutan pengolahan produk di bengkel APHP.

  • Menghemat Waktu Coding: Kalau pseudocode-nya sudah benar, pindah ke bahasa pemrograman asli (Python/Java) jadi cepet banget, tinggal ganti kata-kata kita dengan perintah komputer.

  • Universal: Semua orang, dari anak APHP sampai programmer Silicon Valley, bisa mengerti alur program yang ditulis dalam pseudocode.


Contoh Nyata di APHP SMKN 1 Kedawung: Program Hitung Biaya Produksi Keripik Buah

Anak APHP SMKN 1 Kedawung ingin membuat program sederhana untuk menghitung Total Biaya Produksi (TBP) keripik buah, yang harus mencakup: Biaya Bahan Baku (BBB) dan Biaya Tenaga Kerja Langsung (BTKL).

Coba lihat gambar ilustrasi di atas! Kalian bisa lihat seorang siswa APHP yang sedang membayangkan bagaimana resep programnya bekerja. Di hadapannya ada bahan-bahan segar, siap diolah. Di atasnya, seperti layar hologram, tertera pseudocode yang jadi panduannya. Keren, kan?

Inilah rancangan programnya dalam format Pseudocode:

Cuplikan kode
JUDUL PROGRAM: Hitung_Biaya_Produksi_Keripik

// 1. Inisialisasi (Persiapan Alat & Bahan, seperti menyiapkan wadah dan peralatan)
DEKLARASI
    BBB, BTKL, TBP : Bilangan_Real // Variabel untuk menyimpan angka biaya

// 2. Input (Memasukkan Data Bahan Baku dan Tenaga Kerja)
ALGORITMA
    TAMPILKAN "Selamat Datang di Kalkulator Biaya Produksi APHP"
    TAMPILKAN "Masukkan Biaya Bahan Baku (misal: Biaya Buah, Minyak, dll.):"
    BACA BBB // Komputer menunggu kita memasukkan angka BBB (mirip menimbang bahan)

    TAMPILKAN "Masukkan Biaya Tenaga Kerja Langsung (misal: Gaji Operator Per Batch):"
    BACA BTKL // Komputer menunggu kita memasukkan angka BTKL

// 3. Proses (Mengolah Data sesuai Rumus)
    // Rumus menghitung Total Biaya Produksi
    TBP = BBB + BTKL // Ini inti dari "proses pengolahan" data

// 4. Output (Menyajikan Hasil Perhitungan)
    TAMPILKAN "----------------------------------------------------"
    TAMPILKAN "Hasil Perhitungan Total Biaya Produksi (TBP):"
    TAMPILKAN "Biaya Bahan Baku: ", BBB
    TAMPILKAN "Biaya Tenaga Kerja: ", BTKL
    TAMPILKAN "TOTAL BIAYA PRODUKSI ADALAH: ", TBP // Menampilkan hasil akhir ke layar

Penjelasan Pseudocode di Atas:

Istilah PseudocodeBahasa Santai KitaAnalogi APHP (dengan contoh keripik buah)
DEKLARASIPersiapan: Bilang ke komputer, "Aku mau pakai 'wadah' memori ini, isinya angka, namanya TBP."Menyiapkan Wadah: Menyiapkan wadah (variabel) untuk menampung total biaya.
BACA/INPUTAmbil Data: Minta pengguna memasukkan angka.Mencatat/Menimbang Bahan: Minta operator memasukkan angka berat bahan atau biaya tenaga kerja.
TAMPILKAN/OUTPUTTunjukkan Hasil: Munculkan tulisan/hasil di layar.Menyajikan Produk/Laporan: Menampilkan hasil akhir perhitungan.
TBP = BBB + BTKLRumus/Proses Inti: Perintah untuk menjumlahkan dua angka.Proses Inti Pengolahan: Mencampur/menghitung sesuai rumus baku.

Gimana? Kelihatan lebih mudah kan? Rancangan ini sudah siap diubah menjadi kode program beneran!


Penutup

Jadi, buat kalian anak-anak APHP SMKN 1 Kedawung, jangan takut sama dunia coding. Dengan skill GMP kalian yang sudah sangat terstruktur (mulai dari check-list kebersihan sampai SOP pengolahan), kalian sudah punya bekal logika terbaik untuk menulis Pseudocode!

Ini adalah keterampilan yang sangat berguna, tidak hanya untuk programmer, tapi juga untuk siapa saja yang ingin berpikir logis dan sistematis dalam memecahkan masalah.

Yuk, share pendapat kalian di kolom komentar! Apakah kalian tertarik kalau di APHP ada modul praktikum Pseudocode untuk merancang aplikasi sederhana?

Dan jangan lupa, kunjungi terus blog ini, ya! Siapa tahu besok kita bahas coding beneran! 😉

Minggu, 12 Oktober 2025

Good Manufacturing Practice (GMP): Cara Memproduksi Makanan dan Minuman yang Baik

 Berikut adalah uraian pembahasan lengkap mengenai Good Manufacturing Practice (GMP) atau Cara Produksi Makanan dan Minuman yang Baik (CPMB), serta contoh nyata penerapannya di lingkungan SMK Negeri 1 Kedawung Sragen, khususnya pada jurusan Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian (APHP).

Good Manufacturing Practice (GMP): Cara Memproduksi Makanan dan Minuman yang Baik



Good Manufacturing Practice (GMP) atau Cara Produksi Makanan yang Baik (CPMB) adalah serangkaian pedoman atau prosedur sistematis yang harus diikuti oleh produsen makanan dan minuman untuk memastikan bahwa produk mereka diproduksi secara konsisten dan dikendalikan sesuai dengan standar kualitas. GMP mencakup semua aspek produksi, mulai dari bahan baku, lokasi dan bangunan, peralatan, personel, hingga proses pengemasan.

Tujuan utama penerapan GMP adalah untuk menjamin keamanan, mutu, dan kelayakan pangan yang dikonsumsi masyarakat.


1. Aspek Kunci dalam GMP

Penerapan GMP berfokus pada 10 aspek utama untuk mencegah potensi bahaya (fisik, kimia, dan biologi) yang dapat mencemari produk pangan.

Aspek GMP

Fokus Utama

Lokasi dan Lingkungan Produksi

Memastikan lokasi bebas dari sumber pencemaran (misalnya, tumpukan sampah, polusi).

Bangunan dan Fasilitas

Desain, konstruksi, dan tata letak ruangan yang mudah dibersihkan dan mencegah kontaminasi silang (misalnya, pemisahan area kotor dan bersih).

Peralatan Produksi

Peralatan mudah dibersihkan, terbuat dari bahan yang aman (misalnya food grade), serta kalibrasi yang tepat.

Sanitasi dan Higiene

Prosedur pembersihan dan sanitasi yang efektif untuk bangunan, peralatan, dan semua permukaan kontak.

Pengendalian Hama

Program pencegahan dan pemberantasan hama yang efektif tanpa mencemari produk.

Kebersihan Personel (Higiene Karyawan)

Pemeriksaan kesehatan, pelatihan kebersihan, penggunaan APD (apron, sarung tangan, penutup kepala), dan praktik cuci tangan yang benar.

Pengendalian Proses

Prosedur tertulis (SOP) untuk setiap tahapan produksi, mulai dari penimbangan, pencampuran, hingga pemanasan/pendinginan.

Bahan Baku dan Bahan Tambahan

Seleksi, penerimaan, penyimpanan, dan penanganan bahan baku yang aman dan bermutu.

Pengawasan Mutu

Pengujian bahan baku, produk antara, dan produk akhir untuk memastikan spesifikasi mutu terpenuhi.

Penyimpanan dan Transportasi

Kondisi penyimpanan yang tepat (suhu, kelembaban) untuk mencegah kerusakan dan kontaminasi.


2. Penerapan GMP di SMK Negeri 1 Kedawung Sragen Jurusan APHP

Jurusan Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian (APHP) di SMK Negeri 1 Kedawung Sragen memiliki peran penting dalam mencetak lulusan terampil yang siap berwirausaha atau bekerja di industri pangan. Oleh karena itu, penerapan GMP menjadi kurikulum wajib dan praktik mendasar di laboratorium pengolahan.

Beberapa produk yang dikembangkan di SMK yang memiliki jurusan APHP meliputi sari buah, olahan nabati, dan es krim mangga (berdasarkan potensi daerah). Berikut contoh implementasi nyata GMP saat siswa APHP melakukan praktik pengolahan:

A. Higiene Personel (Kebersihan Diri Siswa)

  • Prosedur Wajib: Setiap siswa/siswi yang akan praktik di laboratorium pengolahan wajib mengenakan pakaian praktik lengkap (topi/penutup kepala, hairnet, masker, apron, dan sarung tangan jika diperlukan).

  • Contoh Nyata: Sebelum masuk area pengolahan, siswa diwajibkan mencuci tangan sesuai prosedur enam langkah standar dan disinfeksi menggunakan hand sanitizer di area hand wash station yang tersedia.

B. Bangunan dan Fasilitas (Laboratorium Pengolahan)

  • Persyaratan: Ruangan praktik (laboratorium) dirancang dengan lantai keramik yang mudah dibersihkan dan memiliki saluran pembuangan air yang memadai. Adanya pembagian zona (zona bersih dan zona kotor) untuk mencegah kontaminasi silang.

  • Contoh Nyata: Area pencucian dan penyiapan bahan baku awal (zona kotor) dipisahkan dari area pengemasan (zona bersih). Misalnya, kegiatan mengupas kulit buah kelengkeng atau mangga dilakukan di meja yang terpisah dari meja tempat pengisian sari buah ke dalam botol.

C. Pengendalian Proses (Pembuatan Sari Buah Kelengkeng/Es Krim Mangga)

  • SOP: Siswa dilatih untuk selalu bekerja berdasarkan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ditempel di dinding laboratorium. SOP ini mencakup suhu, waktu, dan urutan kerja.

  • Contoh Nyata: Dalam pembuatan es krim mangga, siswa harus memastikan proses pasteurisasi (pemanasan) campuran adonan mencapai suhu dan waktu tertentu (misalnya selama 30 menit) untuk membunuh bakteri patogen, kemudian segera didinginkan. Selain itu, mereka harus memastikan buah kelengkeng yang digunakan adalah hasil panen kebun sekolah yang berkualitas baik dan bebas busuk.

D. Pengendalian Peralatan

  • Persyaratan: Semua peralatan, seperti blender, panci stainless steel, dan alat pengemas (sealer), harus dicuci, dibilas, dan disanitasi sebelum dan sesudah digunakan.

  • Contoh Nyata: Setelah praktik selesai, siswa APHP membersihkan dan menyusun peralatan sesuai tempatnya. Alat pengolah yang bersentuhan langsung dengan makanan terbuat dari bahan antikarat (stainless steel) untuk mencegah migrasi zat berbahaya.

E. Penanganan Bahan Baku

  • Persyaratan: Bahan baku (misalnya buah mangga atau kelengkeng dari kebun sekolah) harus diperiksa mutunya sebelum diolah.

  • Contoh Nyata: Buah yang busuk, memar, atau ada tanda-tanda serangan hama dipisahkan dari bahan yang akan diolah untuk menjaga mutu produk akhir (sortasi dan grading).

Penerapan GMP di SMK N 1 Kedawung Sragen ini tidak hanya menghasilkan produk olahan yang aman dan berkualitas (seperti kelengkeng yang bisa menjadi menu program makan bergizi gratis), tetapi juga membekali siswa dengan kompetensi industri sehingga mereka siap menghadapi dunia kerja di bidang pengolahan pangan.

Video ini menunjukkan kegiatan praktik di salah satu SMK yang menyelenggarakan bidang pertanian, termasuk pengolahan hasil pertanian, yang relevan dengan jurusan APHP di SMK N 1 Kedawung Sragen. Belajar mengelola hasil pertanian yang berkualitas; SMKN 1 Kedawung Sragen


X APHP 2- Berpikir Komputasional: Jurus Rahasia Anak APHP SMK N 1 Kedawung Sragen!

🤔 Berpikir Komputasional: Jurus Rahasia Anak APHP SMK N 1 Kedawung Sragen! Hai, Sobat Bloggers dan Calon Insinyur Pangan Masa Depan! Selama...